https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/issue/feedJurnal Kesehatan Farmasi2026-05-05T03:51:09+00:00Ferawati Suzalinferawati@poltekkespalembang.ac.idOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;">JKPharm: Health and Pharmaceutical Journal is a scientific Journal publishing original articles research in Health and Pharmaceutical. JKPharm with <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220401411201302">e-ISSN <span style="font-size: 16.6667px;"><span dir="ltr" style="left: 309.052px; top: 622.183px; font-family: serif; transform: scaleX(1);" role="presentation">2829-2162</span></span></a> and published twice a year (Juny and December). The journal first established in 2019, online publication was begun in 2020 with open Journal System (OJS). We are open for manuscript in various Health and Pharmaceutical fields in both English or Bahasa Indonesia with bilingual abstract.</p>https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3733HUBUNGAN PERSEPSI DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIHIPERTENSI LANJUT USIA PUSKESMAS SUKARAMI PALEMBANG2026-04-30T04:31:24+00:00Minda warnismindarwis@poltekkespalembang.ac.idTedi teditedi@poltekkespalembang.ac.idLilis Maryantililismaryanti@poltekkespalembang.ac.idRini Afriyantirini@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>L</strong><strong>atar Belakang: </strong>Lansia memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi, dan tingkat kepatuhan minum</p> <p>obat yang rendah. Persepsi lansia sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatannya karena dapat meningkatkan motivasi pengobatan dan meningkatkan kepatuhan minum obat untuk mencapai keberhasilan terapi sehingga tekanan darah terkontrol dan tidak terjadi komplikasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan persepsi dengan kepatuhan minum obat antihipertensi lanjut usia Puskesmas Sukarami kota Palembang.</p> <p><strong>Metode: </strong>Jenis penelitan non-ekperimen dengan rancangan analitik Cross-Sectional. Sampel yang digunakan seluruh pasien hipertensi lanjut usia di Puskesmas Sukarami kota Palembang sebanyak 121 responden menggunakan teknik total sampling, dan dilakukan wawancara serta pengisian kuesioner. <strong>Hasil: </strong>Mayoritas responden pada usia 55-78 tahun, didominasi perempuan (64,5%) dengan pendidikan terakhir SMA (57,9%). Lamanya menderita pada 1-10 tahun, sebesar (89,3%) ≤ 5 tahun dan amlodipine sebagai terapi tunggal terbanyak dalam pengobatan. Uji Chi-Square nilai <em>P-Value </em>= (0,000 ≤ 0,05) menunjukkan <em>Ho ditolak</em>, yang artinya ada hubungan secara signifikan antara persepsi dengan kepatuhan minum obat antihipertensi.</p> <p><strong>K</strong><strong>esimpulan: </strong>Ada hubungan secara signifikan antara persepsi dengan kepatuhan minum obat antihipertensi di Puskesmas Sukarami kota Palembang.</p> <p><strong>K</strong><strong>ata kunci : </strong>Hipertensi, kepatuhan minum obat, lansia, persepsi</p> <p> </p> <p> </p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><strong><em>B</em></strong><strong><em>ackground: </em></strong><em>Older adults are at a higher risk of developing hypertension and often demonstrate low levels of medication adherence. Older adults’ perceptions play a crucial role in influencing their health status, as they can enhance treatment motivation and improve adherence to antihypertensive medication, thereby contributing to therapeutic success, optimal blood pressure control, and the prevention of complications. This study aimed to examine the relationship between patients’ perceptions and adherence to antihypertensive medication among older adults attending the Sukarami Primary Health Center in Palembang City.</em></p> <p><strong><em>Methods</em></strong><em>: This study employed a non-experimental design with a cross-sectional analytic approach. The sample consisted of all elderly patients with hypertension attending Sukarami Primary Health Center in Palembang City, totaling 121 respondents, selected using a total sampling technique. Data were collected through interviews and the administration of questionnaires.</em></p> <p><strong><em>R</em></strong><strong><em>esults</em></strong><em>: The majority of respondents were aged 55–78 years, predominantly female (64.5%), with the highest level of education being senior high school (57.9%). Most respondents had been diagnosed with hypertension for 1–10 years, with 89.3% having a disease duration of ≤5 years. Amlodipine was the most commonly used single-agent therapy. The Chi-square test yielded a p-value of 0.000 (p ≤ 0.05), indicating that the null hypothesis was rejected, which suggests a statistically significant association between patients’ perceptions and adherence to antihypertensive medication.</em></p> <p><strong><em>C</em></strong><strong><em>onclusion:</em></strong><em> There is a statistically significant association between patients’ perceptions and adherence to antihypertensive medication at Sukarami Primary Health Care Center, Palembang City.</em></p> <p><strong><em>K</em></strong><strong><em>eywords </em></strong><em>: Hypertension, medication adherence, older adults, perceptions</em></p> <p><em> </em></p>2026-04-28T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3746The PROFIL PERESEPAN OBAT ISPA NON-PNEUMONIA DALAM PELAYANAN MTBS DI PUSKESMAS PENGANDONAN KOTA PAGAR ALAM2026-04-29T03:35:51+00:00Vera Astutivera@poltekkespalembang.ac.idMar'atus SolikhahMar'atus@poltekkespalembang.ac.idTedi Teditedi@poltekkespalembang.ac.idDelvi AnisDelvi@gmail.com<p><strong>Latar Belakang: </strong>Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) non-pneumonia pada balita merupakan kasus yang sering ditemukan di layanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peresepan obat ISPA non-pneumonia pada balita dalam pelayanan MTBS di Puskesmas Pengandonan Kota Pagar Alam.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data rekam medis 87 pasien balita. Analisis meliputi karakteristik pasien (usia dan jenis kelamin), jenis dan bentuk sediaan obat, penggunaan antibiotik, serta ketepatan dosis. </p> <p><strong>Hasil:</strong> Mayoritas pasien berusia 3–5 tahun (70,11%) dan berjenis kelamin perempuan (60,92%). Jenis obat yang paling banyak diresepkan adalah kombinasi parasetamol, CTM, dan guaifenesin (50%). Bentuk sediaan terbanyak berupa puyer (46,67%) dan sirup amoksisilin (39,39%). Penggunaan antibiotik ditemukan pada 74,71% resep, dengan ketepatan dosis sebesar 97,70% dan lama pemberian obat terbanyak selama 5 hari (81,60%).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Pola peresepan secara umum telah sesuai dengan pedoman MTBS, namun penggunaan antibiotik masih tergolong tinggi</p>2026-04-28T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3821HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA FARMASI UNIVERSITAS NOOR HUDA MUSTOFA TERHADAP SIKAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK2026-04-29T04:35:30+00:00April Nurainiaprilnurainiok@gmail.comRatri Rokhaniaprilnurainiok@gmail.comTri Utamiaprilnurainiok@gmail.com<p><strong>Latar Belakang: </strong>Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat menimbulkan resistensi antibiotik. Salah satu faktor resistensi antibiotik yaitu kurangnya pengetahuan tentang antibiotik. <strong>Metode:</strong> Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan mahasiswa Farmasi Universitas Noor Huda Mustofa terhadap sikap penggunaan antibiotik. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Farmasi Universitas Noor Huda Mustofa, pengambilan sampel dengan propotional dan random sampling sebanyak 92 responden pada bulan Desember 2025. Metode penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian dimana variabel independen dan variabel dependen diukur satu kali pada satu waktu dengan membagikan kuesioner pada mahasiswa.</p> <p><strong>Hasil</strong><strong>:</strong> Sebagian besar mahasiswa Farmasi Universitas Noor Huda Mustofa memiliki pengetahuan dalam kategori tinggi (40,2%) dan memiliki sikap dalam kategori baik (47,8%). Hubungan tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap sikap penggunaan antibiotik menggunakan uji korelasi spearman bahwa nilai sig 0,000 (ρ < 0,05) menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap penggunaan antibiotik.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong><strong>:</strong> Nilai koefisiensi korelasi menunjukkan arah korelasi positif yang berarti memiliki hubungan yang searah.</p>2026-04-29T04:30:33+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3741Hubungan Kejadian DRP dan Outcome Klinis Pasien Pediatri2026-04-30T02:20:45+00:00Vinando Vinandovinando72@gmail.comNerly Juli Pranita Simanjuntaknerlyjulipranitasimanjuntak24@gmail.comRoy Indrianto Bangarnerlyjulipranitasimanjuntak24@gmail.com<p><strong>Latar Belakang: </strong>Salah satu penyakit kompleks yang sering dialami oleh anak-anak adalah penyakit saluran pernafasan. Tenaga kesehatan sering mengalami masalah dalam pelayanan kesehatan seperti pemberian dosis obat yang tepat, sediaan obat yang tepat, dan lain sebagainya. Sehingga menyebabkan suatu kejadian yang mengganggu hasil kesehatan penyakit saluran napas yang berhubungan dengan pengobatan yang diberikan sering dikaitkan dengan masalah terkait obat atau dikenal dengan <em>Drug Related Problems</em> (DRP). <em>Drug Related Problems </em>(DRP) mempunyai pengaruh terhadap <em>outcome</em> klinis terapi pasien. Sehingga peneliti ingin meninjau lebih lanjut kemungkinan kejadian DRP yang dapat terjadi serta melakukan evaluasi hubungan kejadian DRP dengan hasil klinis pada pasien pediatric yang menderita penyakit saluran pernafasan pada instalasi rawat inap.</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian ini dilakukan secara observasional analitik dan dilakukan teknik <em>total sampling</em> dalam pengambilan sampe dimana sampel yang diambil hanya memenuhi kriteria inklusi. Setelah dilakukan pengambilan sampel dianalisis DRP berdasarkan pedoman <em>American Society of Health Pharmacist </em>(ASHP). Jumlah DRP yang didapatkan dikorelasikan dengan hasil klinis pasien menggunakan uji statistic. Uji statistic yang digunakan adalah metode <em>chi-square</em> dan didapatkan nilai <em>p-value</em> untuk mengetahui signifikansi kedua hubungan tersebut.</p> <p><strong>Hasil: </strong>Pada penelitian ini didapatkan jumlah kasus yang sesuai dengan syarat inklusi adalah 114 kasus. Jumlah kejadian DRP adalah 445 dari keseluruhan dimana setiap DRP yang ada terhitung satu. Uji <em>chi-square</em> didapatkan nilai <em>p-value</em> dengan hasil 0.000 yang menandakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kenaikan jumlah DRP dengan penurunan <em>outcome</em> klinis yang diterima pasien.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat hubungan yang signifikan antara kenaikan jumlah DRP dengan penurunan hasil klinis ehingga perlu dilakukan peninjauan kembali oleh tenaga kefarmasian untuk mendapatkan <em>outcome</em> klinis yang baik oleh pasien.</p>2026-04-30T02:20:45+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3615Evaluasi Interaksi Obat Pasien Hipertensi Dengan Komplikasi Diabetes Melitus Pada Pasien Lansia Di Rsud Lahat2026-04-30T08:52:23+00:00Anggy Utama Putrianggyutama@gmail.comDevi Regiantiregiantidevi372@gmail.comDani PrasetyoDani@gmail.com<p><strong>Latar Belakang: </strong>Hipertensi dengan komplikasi diabetes melitus merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang sering dialami oleh pasien lanjut usia. Kondisi ini terjadi karena pasien lanjut usia umumnya memiliki beberapa penyakit kronis yang membutuhkan terapi kombinasi, sehingga meningkatkan risiko interaksi obat yang dapat memengaruhi efektivitas maupun keamanan terapi. Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi bentuk serta mekanisme interaksi obat yang terjadi, serta menilai hubungan antara jenis kelamin, usia, jumlah obat, jenis dan golongan obat antihipertensi, obat antidiabetik, serta kombinasi obat dengan kejadian interaksi obat pada pasien lanjut usia di RSUD Lahat.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien rawat inap di RSUD Lahat periode Januari–Desember 2024. Sempel sebanyak 40 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang dianalisis mencakup karakteristik pasien (jenis kelamin dan usia), jumlah obat yang digunakan, serta jenis dan golongan obat antihipertensi dan antidiabetes untuk mengidentifikasi potensi interaksi berdasarkan mekanisme farmakodinamik dan farmakokinetik. Tingkat keparahan interaksi serta hubungan antara jumlah, jenis, dan kombinasi obat terhadap kejadian interaksi diuji menggunakan uji <em>Chi-Square</em>.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 responden laki-laki (55%) dan 18 perempuan (45%) dengan kelompok usia terbanyak 60–69 tahun 16 responden (40%), diikuti 70–79 tahun 15 responden (36%) dan 80–90 tahun 9 responden (23%). Sebagian besar menggunakan dua obat 23 responden (58%), diikuti tiga obat 14 responden (35%) dan empat obat 3 responden (8%), dengan Amlodipin 14 responden (35%) serta Candesartan 10 responden (25%) sebagai antihipertensi, dan Metformin 21 responden (52,5%) sebagai antidiabetes utama. Kombinasi Amlodipin–Metformin 9 responden (22,5%) paling sering menimbulkan interaksi, diikuti Candesartan–Insulin Aspart 7 responden (15%) serta Furosemide–Glimepiride 4 responden (10%). 23 responden (58%) mengalami interaksi obat dengan mekanisme farmakodinamik 17 responden (73,9%) dan farmakokinetik 6 responden (26,1%), seluruhnya pada tingkat keparahan sedang (moderate). Uji <em>Chi-Square </em>menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jumlah obat (<em>p</em> = 0,003), jenis/golongan obat (<em>p </em>< 0,001), dan kombinasi obat (<em>p </em>< 0,001) terhadap kejadian interaksi, sedangkan usia (<em>p</em> = 0,408) dan jenis kelamin (<em>p</em> = 0,318) tidak memiliki hubungan signifikan.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Di RSUD Lahat, interaksi obat pada pasien lansia yang menderita hipertensi dan diabetes melitus sangat tinggi, dan ini dipengaruhi oleh jumlah dan kombinasi obat yang diberikan.</p> <p> </p> <p> </p>2026-04-30T08:46:17+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3751A REVIEW ARTIKEL: POTENSI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TANAMAN RUMPUT KNOP (Hyptis capitata Jacq)2026-04-30T09:36:20+00:00Rosnidar Sumardirosnidar2211@gmail.comNeng Mira Atjomira@gmail.comWisdayanti WisdayantiWisdayanti@gmail.comAnisa Dwirizky AbdullahDwirizky@gmail.comAuliah Rahmi LatifAuliah@gmail.comWidya LuthfiyahWidya@gmail.comEkasari Kartika Putri WibowoEkasari@gmail.comAzima AzimaAzima@gmail.comPutri RamdaniahRamdaniah@gmail.comNadya PratiwiPratiwi@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Antibiotik merupakan obat untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Pemberian antibiotik pada penderita penyakit infeksi bertujuan untuk menghambat pertumbuhan maupun membunuh bakteri penyebab penyakit, akan tetapi jika penggunaan antibiotik tidak tepat akan mengakibatkan resistensi antibiotik. Dalam upaya untuk menemukan alternatif pengobatan antibakteri yang efektif, penelitian terhadap senyawa alami dari tumbuhan telah mendapatkan perhatian yang semakin besar. Ekstrak tanaman yang kaya akan berbagai senyawa bioaktif, memiliki potensi sebagai agen antibakteri yang dapat digunakan dalam pengobatan infeksi bakteri. <strong>Tujuan:</strong> Studi ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai potensi antibakteri dari tanaman Rumput Knop (<em>Hyptis capitata </em>Jacq.). <strong>Metode:</strong> Tinjauan artikel ini dilakukan melalui studi Pustaka dari 6 artikel penelitian dengan rentang tahun publikasi 2012-2025. <strong>Hasil:</strong> Ekstrak daun, akar, dan bunga Rumput Knop (<em>Hyptis capitata </em>Jacq.) menunjukkan aktivtas penghambatan yang kuat terhadap bakteri <em>Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus</em> (MRSA), <em>Pseudomonas aeruginosa, Eschericia coli, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Propionibacterium acnes</em>, <em>Streptococcus sobrinus, </em>dan <em>Bacillus cereus</em>. <strong>Kesimpulan:</strong> Tanaman Rumput Knop (<em>Hyptis capitata </em>Jacq.) memiliki potensi sebagai antibakteri.</p>2026-04-30T09:35:45+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3826PERSEPSI DAN PEMAHAMAN PENGUNJUNG TERHADAP ANTIBIOTIK DI APOTEK MASKINA FARMA KEDEMANGAN TAHUN 20262026-04-30T09:39:31+00:00Dira Safitridirasafitri812@gmail.comHelman Kurniadihelmankurniadi@gmail.com<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Penggunaan antibiotik yang tidak rasional masih menjadi permasalahan di masyarakat dan berpotensi menyebabkan resistensi bakteri. Kondisi ini dipengaruhi oleh persepsi dan pemahaman masyarakat yang belum optimal terkait penggunaan antibiotik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan tingkat pemahaman pengunjung terhadap antibiotik di Apotek Maskina Farma Kedemangan tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 285 responden yang diambil dengan teknik Accidental Sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap penggunaan antibiotik sebagian besar berada pada kategori netral. Tingkat pemahaman responden berada pada kategori kurang hingga cukup. Responden dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan responden dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan masih adanya kesenjangan pengetahuan dalam penggunaan antibiotik di masyarakat. Persepsi dan pemahaman masyarakat terhadap penggunaan antibiotik masih belum optimal sehingga diperlukan upaya edukasi untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional.</span></span></p>2026-04-30T09:39:31+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3750ANALYSIS OF DRUG UTILIZATION PATTERNS BASED ON THERAPEUTIC CLASSES AND CLINICAL INDICATIONS IN COMMUNITY PHARMACIES2026-05-04T01:51:55+00:00Fauziah Hasdinfauziah.hasdin@unm.ac.idRieka Nurul Dwi Anggraenifauziah.hasdin@unm.ac.idAndi Ameilia Sari Riandikafauziah.hasdin@unm.ac.id<p><strong>Latar Belakang: </strong>Analisis pola penggunaan obat penting untuk mendukung penggunaan obat yang rasional di masyarakat. Apotek komunitas berperan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang menyediakan layanan resep dan swamedikasi untuk berbagai indikasi klinis. Oleh karena itu, kajian pola penggunaan obat berdasarkan kelas terapi dan indikasi klinis diperlukan untuk menggambarkan praktik penggunaan obat di tingkat komunitas.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan data retrospektif dari catatan resep dan penjualan obat di satu apotek komunitas. Variabel yang dianalisis meliputi kelas terapi obat dan indikasi klinis. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan <em>Crosstab</em> serta uji <em>Chi-Square.</em></p> <p><strong>Hasil:</strong> Analgesik–antipiretik merupakan kelas terapi terbanyak, sedangkan nyeri dan ISPA menjadi indikasi klinis dominan. Uji Chi-Square menunjukkan hubungan bermakna antara kelas terapi dan indikasi klinis (χ² = 6.761,98; p < 0,001). Pola penggunaan obat mencerminkan kesesuaian antara kelas terapi dan indikasi klinis sesuai prinsip penggunaan obat rasional pada studi potong lintang.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Pola penggunaan obat di apotek komunitas didominasi oleh terapi keluhan ringan, sehingga peran apoteker perlu diperkuat untuk menjamin penggunaan obat yang rasional sesuai indikasi klinis.</p> <p> </p>2026-04-30T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3740TINJAUAN LITERATUR: EFEKTIVITAS METODE PERKOLASI SEBAGAI TEKNIK EKSTRAKSI FITOKIMIA2026-05-04T06:42:52+00:00arista wahyu ningsihariessmkkes@gmail.comHaya Avia Aunillahhayaavia2004@gmail.comElit Juwita Ratuelitjuwita@gmail.comNamira Salsabillahnamirasalsabillah04@gmail.comSepbrilla Ananda Kusriadisepbrilllaananda170905@gmail.comVirgiawan kusuma wardhanaDirgantaraarmy@gmail.comEka Aurya Agustinaekaaurya15@gmail.comYumaisaroh chudaibiyahyhumaisarohchudaibiyah@gmail.comMulia Maharanimaharanimulia344@gmail.comSavilla rensyanawatiRensya097@gmail.com<p>Perkolasi merupakan salah satu metode ekstraksi konvensional yang masih banyak digunakan dalam penelitian fitokimia untuk memperoleh senyawa aktif dari bahan alam. Metode ini dilakukan dengan cara mengalirkan pelarut melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi pada suhu kamar, sehingga cocok untuk senyawa yang termolabil. Literatur review ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas metode perkolasi sebagai teknik ekstraksi dengan meninjau prinsip kerja, faktor-faktor yang memengaruhi rendemen, kelebihan dan keterbatasan, variasi metode, serta inovasi terbaru. Berdasarkan hasil telaah dari sepuluh artikel (2016-2025) ditinjau berdasarkan parameter pelarut, waktu, rendemen, dan kandungan fitokimia, perkolasi terbukti efektif dalam mengekstraksi berbagai senyawa fitokimia seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin, dengan hasil rendemen yang bervariasi tergantung pada jenis pelarut, konsentrasi, waktu, serta ukuran partikel simplisia. Inovasi terkini seperti kombinasi perkolasi dengan ultrasonik dan optimasi menggunakan metode Response Surface Methodology menunjukkan peningkatan efisiensi ekstraksi. Dengan demikian, metode ekstraksi perkolasi masih relevan digunakan dan memiliki prospek pengembangan untuk menghasilkan ekstrak berkualitas dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.</p>2026-05-04T06:42:52+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3786LITERATUR REVIEW: IMPLEMENTASI GOOD PHARMACY PRACTICE DI APOTEK KOMUNITAS2026-05-04T06:51:55+00:00 Chindy Retika2503003@stifar-riau.ac.idSeftika Sariseftikasari@stifar-riau.ac.idNeni Frimayantinenifrimayanti@stifar-riau.ac.idBenni Iskandarbenniiskandar@stifar-riau.ac.id<p><em>Good Pharmacy Practice</em> (GPP) merupakan standar praktik farmasi yang ditetapkan oleh <em>International Pharmaceutical Federation</em> (IPF) dan <em>World Health Organization</em> (WHO) untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian. Implementasi GPP di berbagai negara menunjukkan tingkat kepatuhan yang bervariasi. Melakukan tinjauan sistematis terhadap implementasi GPP di apotek komunitas di berbagai negara, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan, serta peluang peningkatan kualitas pelayanan. Pencarian literatur dilakukan terhadap artikel yang dipublikasikan tahun 2015-2025. Sepuluh artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan metode literature review. Tingkat kepatuhan terhadap standar GPP bervariasi dari 11,7% hingga 65,09%. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan meliputi kualifikasi tenaga farmasi, lokasi geografis apotek, dukungan regulasi, infrastruktur, dan sumber daya. Kategori dengan kepatuhan tertinggi adalah pengelolaan sediaan farmasi (66,1%-86,6%), sedangkan terendah adalah pelayanan farmasi klinik (11,02%-41,4%). Implementasi GPP di apotek komunitas masih suboptimal, terutama di negara berkembang. Diperlukan penguatan regulasi, peningkatan kompetensi tenaga farmasi, dan dukungan infrastruktur untuk meningkatkan kepatuhan terhadap standar GPP.</p>2026-05-04T06:51:55+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3748STUDI FORMULASI GEL EKSTRAK KULIT RARU (COTYLELOBIUM MELANOXYLON PIERRE) SEBAGAI AGEN ANTIBAKTERI2026-05-04T08:56:32+00:00Michelle Veronica Gulo guloroyindriantobangars@unprimdn.ac.idRoy Indrianto Bangarroyindriantobangars@unprimdn.ac.idRefi Ikhtiariroyindriantobangars@unprimdn.ac.id<p><em>Acne is a skin condition affecting adolescents and young adults, characterized by an imbalance in the skin microbiome, excessive sebum production, and the accumulation of keratin, triggered by the bacteria Propionibacterium acnes, a significant pathogenic factor. Acne can be treated with antibiotics, but long-term antibiotic use can have side effects if used incorrectly. Raru wood has pharmacological potential due to its content of secondary metabolites such as flavonoids, tannins, saponins, and triterpenoids. Raru bark extract was developed into a gel dosage form to optimize its treatment effectiveness. The purpose of this study was to determine the gel formulation and antibacterial effectiveness of raru bark extract in the gel preparation. The research method was experimental, involving the formulation and evaluation of the gel, as well as testing its antibacterial activity using the disc method at a concentration of 3%, negative controls, and positive controls.</em></p>2026-05-04T08:56:32+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3789PROFIL DAN POTENSI INTERAKSI OBAT DALAM SWAMEDIKASI PADA PASIEN HIPERTENSI2026-05-04T09:09:19+00:00Isnenia Isneniaisnenia@poltekkes-tjk.ac.idPudji Rahayuisnenia@poltekkes-tjk.ac.id<p><strong>Latar Belakang: </strong>Keluhan/gejala penyakit lain dapat saja muncul ketika seseorang menderita penyakit hipertensi. Swamedikasi sebagai upaya yang cepat, singkat dalam mengatasi hal tersebut. Akan tetapi, potensi bahaya dapat saja muncul ketika swamedikasi dilakukan pada pasien hipertensi. <strong>Tujuan</strong>: mengetahui profil obat dan potensi interaksinya dalam swamedikasi oleh pasien hipertensi. <strong>Metode</strong>: Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental, bersifat cross-sectional. Data diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap pasien hipertensi. Sampel adalah pasien yang berobat pada bulan Oktober-Desember 2024. Data kemudian disajikans ecara deskriptif meliputi karakteristik pasien, Zat aktif yang digunakan pasien, serta potensi interaksi yang dapat muncul. <strong>Hasil </strong>: Sampel berjumlah 158 orang, dengan didominasi perempuan (77,8%). Keluhan yang banyak diderita adalah nyeri (63,3%), dengan zat aktif yang paling banyak digunakan adalah parasetamol (68%). Potensi interaksi yang terjadi adalah zat aktif pseudoefedrin, fenilpropanolamin, fenilefrin yang dapat meningkatkan tekanan darah. Interaksi obat-obat yang terjadi yaitu dengan NSAID dengan antihipertensi golongan ACEi. <strong>Kesimpulan</strong> : Terdapat potensi interaksi obat dengan penyakit dan obat terhadap obat dalam swamedikasi yang dilakukan oleh pasien hipertensi. </p>2026-05-04T09:09:19+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3749MOLECULER DOCKING SENYAWA BIOAKTIF KULIT RARU (Cotylelobium melanoxylon) TERHADAP TARGET α-GLUKOSIDASE DAN α-AMILASE2026-05-04T09:17:57+00:00Josita Jenny Haryanti Hutagulungjositajenny8@gmail.comRoy Indrianto Bangarroyindriantobangars@unprimdn.ac.id<p><em>Diabetes mellitus is a metabolic disease that affects the body’s ability to control blood glucose levels, making effective treatments necessary to reduce postprandial glucose increases. Flavonoid compounds from raru bark (Cotylelobium melanoxylon) have shown potential as inhibitors of carbohydrate-digesting enzymes, especially α-amylase and α-glucosidase. This study aimed to evaluate the antidiabetic potential of flavonoid compounds from raru bark using an in silico approach with molecular docking. Five flavonoid compounds—rutin, isoquercetin, quercetin, quercitrin, and isoquercitrin—were tested to examine their binding ability to the target enzymes. The results showed that rutin and isoquercetin had lower binding energy values than the standard ligand, indicating more stable interactions and stronger enzyme inhibition. These findings suggest that flavonoid compounds from raru bark may be developed as natural antidiabetic agents; however, further in vitro and in vivo </em>studies are needed to confirm their safety and effectiveness.</p>2026-05-04T09:17:57+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/Jkpharm/article/view/3827EVALUASI KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS KUMUN KOTA SUNGAI PENUH TAHUN 20252026-05-05T03:51:09+00:00Neta Sri Novitanetasrinovita30@gmail.comHelman Kurniadihelmankurniadi@gmail.com<p>Kepuasan pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan. Evaluasi kepuasan pasien diperlukan untuk mengetahui kualitas pelayanan yang diberikan serta sebagai dasar perbaikan layanan di Puskesmas Kumun Kota Sungai Penuh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada 259 responden yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Instrumen menggunakan metode SERVQUAL yang meliputi lima dimensi pelayanan. Analisis data dilakukan secara univariat dengan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepuasan sangat tinggi pada dimensi ketanggapan (90,2%) dan kehandalan (87,5%). Dimensi jaminan berada pada kategori puas (65,2%). Sementara itu, dimensi empati (45%) dan bukti fisik (46%) termasuk kategori kurang puas. Hal ini menunjukkan masih terdapat aspek pelayanan yang perlu ditingkatkan. Pelayanan kefarmasian di Puskesmas Kumun secara umum telah memuaskan pasien, namun perlu peningkatan pada aspek empati dan bukti fisik untuk meningkatkan mutu pelayanan secara menyeluruh.</p>2026-05-04T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##