https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/issue/feedJGK: Jurnal Gizi dan Kesehatan2026-07-07T05:06:35+00:00Adminjgk@poltekkespalembang.ac.idOpen Journal Systems<p><span class="JLqJ4b ChMk0b" data-language-for-alternatives="en" data-language-to-translate-into="auto" data-phrase-index="0"><strong>Jurnal Gizi dan Kesehatan</strong> is an open access with <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220324411940806">e-ISSN 2829-2014</a> and p-ISSN 2829-2057; and peer-reviewed journal containing research articles in the field of nutrition and health, related to clinical nutrition, community nutrition, and food service (Nutritional Institutions and Food Technology) .</span> <span class="JLqJ4b ChMk0b" data-language-for-alternatives="en" data-language-to-translate-into="auto" data-phrase-index="1">This journal is published by </span><span class="JLqJ4b ChMk0b" data-language-for-alternatives="en" data-language-to-translate-into="auto" data-phrase-index="1">Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Palembang</span><span class="JLqJ4b ChMk0b" data-language-for-alternatives="en" data-language-to-translate-into="auto" data-phrase-index="1"> with a frequency of being published twice a year (June and December).</span></p> <p> </p>https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/pdfPENGARUH PEMBERIAN TEH DAUN KELOR TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PADA PASIEN DIABETES TIPE 22026-06-30T07:47:09+00:00Rakhmawati Rakhmawatihervianavivi31@gmail.comHerviana Hervianahervianavivi31@gmail.comRurry Nindya Taluphytahervianavivi31@gmail.com<p>Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan gangguan metabolisme yang disebabkan oleh kekurangan sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya. Kriteria DM tipe 2 berdasarkan pemeriksaan darah jika kadar glukosa darah sewaktu (GDS) >200mg/dl atau kadar glukosa darah puasa (GDP) >126mg/dl. Salah satu terapi non farmakologis untuk mengendalikan glukosa darah pada pasien DM dapat dengan cara pemanfaatan tanaman obat. Daun kelor (<em>Moringa oleifera</em>) termasuk dalam jenis tanaman yang memiliki sifat antidiabetik karena mengandung metabolit sekunder flavonoid, asam fenolik, dan EGCG yang mampu menstabilkan kadar glukosa darah. Tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh pemberian teh daun kelor terhadap kadar glukosa darah puasa pada pasien DM tipe 2. Metode penelitian yang digunakan yaitu <em>quasy experiment </em>dengan rancangan <em>one group pre-test and post-test</em>. Jumlah sampel dalam penelitian yaitu 21 responden yang dipilih secara <em>purposive sampling</em>. Intervensi yang diberikan ke responden yaitu teh daun kelor sebanyak 200ml selama 7 hari. Uji statistik yang digunakan untuk analisis bivariat yaitu uji <em>wilcoxon</em>. Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan kadar glukosa darah puasa sebelum dan setelah intervensi sebanyak 75,28mg/dl (p<0,005). Penelitian ini disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian teh daun kelor terhadap kadar glukosa darah puasa pada pasien DM tipe 2.</p>2026-06-28T08:03:06+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/3890ASUHAN GIZI INDIVIDUAL PADA SIROSIS HATI DEKOMPENSATA SEKUNDER AKIBAT MAFLD DENGAN ASITES MASIF DAN HIPERGLIKEMIA REAKTIF2026-07-04T09:29:55+00:00Ririn Iryaniririniryani81@student.uns.ac.idWiwik Ekorinawatiririniryani81@student.uns.ac.idIndrawati Indrawatiririniryani81@student.uns.ac.idAhmad Fahrudinririniryani81@student.uns.ac.idFatimah Azzahraririniryani81@student.uns.ac.id<p>Latar Belakang: Sirosis hepatis dekompensata akibat metabolic dysfunction-associated fatty liver disease (MAFLD) sering disertai malnutrisi, asites, gangguan metabolisme glukosa, dan risiko hepatic sarcopenia yang memerlukan penatalaksanaan gizi komprehensif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan asuhan gizi individual pada pasien sirosis hepatis dekompensata Child-Pugh B akibat MAFLD dengan asites permagna dan hiperglikemia reaktif.<br data-start="835" data-end="838"> Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan Nutrition Care Process (NCP) yang meliputi asesmen, diagnosis, intervensi, monitoring, dan evaluasi gizi.<br data-start="1015" data-end="1018"> Hasil: Pasien mengalami malnutrisi terkait penyakit kronik dengan inflamasi, ditandai oleh %LILA 85,3%, asupan energi-protein tidak adekuat, asites permagna, anemia, hiperglikemia reaktif, dan risiko hepatic sarcopenia. Setelah intervensi, asupan energi meningkat dari 900,2 kkal menjadi 1.149 kkal dan asupan protein dari 37,4 g menjadi 52 g, disertai perbaikan toleransi makan dan kondisi klinis.<br data-start="1416" data-end="1419"> Kesimpulan: Asuhan gizi individual berbasis GLIM membantu meningkatkan asupan energi-protein dan mendukung stabilisasi kondisi klinis pasien sirosis hepatis dekompensata akibat MAFLD.</p> <p data-start="1604" data-end="1668"><strong data-start="1604" data-end="1629">Keywords / Kata kunci</strong><br data-start="1629" data-end="1632"><strong data-start="1670" data-end="1732">Sirosis hepatis; MAFLD; asites; hiperglikemia; asuhan gizi</strong></p>2026-06-30T05:45:23+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/2956HUBUNGAN RIWAYAT PENDIDIKAN IBU DAN PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG ANAK DENGAN PENGETAHUAN SARAPAN ANAK DI SDN KARAWANG WETAN 012026-07-04T05:14:02+00:00Putri Andriyani Silalahi2310631220038@student.unsika.ac.idLinda Riski Sefrina2310631220038@stundent.unsika.ac.idMilliyantri Elvandari2310631220038@stundent.unsika.ac.id<p><strong>Latar belakang</strong>: pentingnya pendidikan ibu sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi status gizi dan perilaku makan anak, termasuk kebiasaan sarapan. Sarapan adalah sumber energi utama anak untuk memulai aktivitas harian dan berkontribusi pada konsentrasi serta prestasi belajar mereka di sekolah. <strong>Tujuan</strong>: menganalisis hubungan antara riwayat pendidikan ibu dan pengetahuan gizi seimbang anak dengan pengetahuan sarapan anak di SDN Karawang Wetan 01. <strong>Metode</strong>: Metode penelitian yang digunakan adalah desain cross-sectional dengan teknik total sampling untuk memilih 30 responden di SDN Karawang Wetan 01 pada bulan Mei 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dengan perangkat lunak SPSS versi 26. <strong>Hasil</strong>: penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berasal dari ibu dengan tingkat pendidikan SMA (73,3%) dan sebagian besar anak memiliki pengetahuan gizi seimbang tinggi (73,3%). Distribusi pengetahuan sarapan pada anak bervariasi, dengan 43,3% memiliki pengetahuan cukup. Uji statistik menunjukkan nilai p-value sebesar 0,720, yang mengindikasikan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan pengetahuan sarapan anak, maupun antara pengetahuan gizi seimbang anak dengan pengetahuan sarapan anak. <strong>Kesimpulan</strong>: tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat pendidikan ibu dan pengetahuan gizi seimbang anak dengan pengetahuan sarapan anak pada populasi studi ini.</p>2026-06-30T06:53:37+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/3829ASUPAN VITAMIN C DAN E PADA PASIEN JANTUNG KORONER DI RUMAH SAKIT JASA KARTINI KOTA TASIKMALAYA JAWA BARAT2026-07-04T05:11:55+00:00Yanita Listianasarizani3ta@gmail.comSalsabila Amanata Nurhalizazani3ta@gmail.com<p><em>Coronary heart disease (CHD) is a non-communicable disease caused by the narrowing of coronary artery blood vessels, which obstructs blood flow to the heart muscle (atherosclerosis). In Indonesia, the prevalence of coronary heart disease (CHD) reaches 1.5%, in West Java it reaches 1.6%, and in Tasikmalaya, heart disease ranks third among seven non-communicable diseases. The study aims to describe the intake of vitamins C and E in patients with cardiovascular disease at Jasa Kartini Hospital in Tasikmalaya City. The type of research is descriptive quantitative using the purposive sampling method. Data were obtained thru interviews using the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) method. The research results show that 55% of respondents have an average vitamin C intake in the good category, whereas 68% of respondents have an average vitamin E intake in the less good category. These results indicate that the majority of patients have met their vitamin C needs, but many have not yet met their vitamin E needs. The low intake of vitamin E is concerning because this vitamin plays a role in preventing LDL oxidation and plaque formation. The conclusion of the study is that the vitamin C intake of most CHD patients is mostly good, but the vitamin E intake is still low.</em></p>2026-06-30T08:43:55+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/3830KONSUMSI VITAMIN C DAN SENG DENGAN RISIKO DIABETES MELITUS DI WILAYAH JEMBATAN KECIL KOTA BENGKULU2026-07-04T05:15:06+00:00Juita Sarijuitatata21@gmail.comArie krisnasaryariekrisnasary@poltekkesbengkulu.ac.idJumiyati Jumiyatijumiyati@poltekkesbengkulu.ac.id<p>Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Pola makan rendah konsumsi vitamin c dan seng faktor risiko yang dapat dicegah. Wilayah Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu merupakan salah satu wilayah dengan jumlah penderita DM yang tinggi. Oleh karna itu, penting dilakukan penelitian terkait faktor gaya hidup untuk mencegah DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi vitamin c dan seng dengan risiko diabetes melitus di wilayah Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, jumlah sampel sebanyak 65 orang yang dipilih dengan teknik purposive sampling, instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner SQ-FFQ dan CanRisk. Analisis data di lakukan dengan uji chi-square menggunakan tingkat signifikansi p ≤ 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara vitamin c dengan risiko DM (p = 0,014;OR = 4,571) dan tidak ada hubungan yang signifikan antara seng dengan risiko DM (p = 0,934;OR = 737). Konsumsi vitamin c berhubungan dengan risiko DM tapi tidak berhubungan dengan seng. Peningkatan pola makan sehat perlu ditingkatkan untuk menurunkan risiko DM pada kelompok usia 40-70 tahun</p>2026-06-30T09:42:59+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/2957HUBUNGAN DURASI TIDUR, UANG SAKU, DAN ASUPAN GIZI MAKRO DENGAN STATUS GIZI SISWA DI SDN ADIARSA TIMUR I2026-07-04T05:17:05+00:00Bela Safitri2310631220004@student.unsika.ac.idLinda Riski Sefrina2310631220004@student.unsika.ac.idMilliyantri Elvandari2310631220004@student.unsika.ac.id<p><strong>Latar Belakang: </strong>Status gizi anak sekolah dasar merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan kualitas tumbuh kembang serta kemampuan belajar. Faktor-faktor seperti durasi tidur, uang saku, dan asupan zat gizi makro dapat memengaruhi status gizi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Durasi tidur yang tidak optimal dapat berdampak pada metabolisme dan nafsu makan, sementara jumlah uang saku dapat memengaruhi pola konsumsi jajanan, dan asupan zat gizi makro berperan dalam mencukupi kebutuhan energi dan pertumbuhan. <strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi tidur, uang saku, dan asupan gizi makro dengan status gizi siswa kelas V di SDN Adiarsa Timur 1. <strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan rancangan <em>cross sectional</em> dengan jumlah sampel sebanyak 29 siswa. Data dianalisis menggunakan <em>uji rank spearman</em>. <strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi tidur (p=0,204; r=0,243), uang saku (p=0,651; r=0,088), serta asupan zat gizi makro yang terdiri dari energi (p=0,333; r=0,186), protein (p=0,392; r=0,165), lemak (p=0,701; r=0,074), dan karbohidrat (p=0,735; r=0,066) terhadap status gizi siswa. <strong>Simpulan: </strong>Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa durasi tidur, uang saku, dan asupan zat gizi makro tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi siswa.</p>2026-06-30T09:59:54+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/3479FOOD WASTE IN BOARDING SCHOOLS: A SYSTEMATIC LITERATUR REVIEW2026-07-04T07:58:59+00:00Andi Eka Yuniantoandi.yunianto@fk.unila.ac.idSugirah Nour Rahmansugirah.nour.rahman@fk.unila.ac.idWindi Indah Fajar Ningsihwindi@fkm.unsri.ac.id<p><em>Six studies from South Africa, Indonesia, China, and Taiwan documented food waste in boarding schools and comparable educational settings. In an Islamic boarding school, one study measured a mean waste rate of 4.36% (SD 8.41%), while another in a similar setting found that food temperature issues significantly increased waste (p = 0.023). In university dining halls, plate waste ranged from 16.9% to 26.7%, reaching 555 g per student per day. In primary/middle schools, 130 g were wasted per meal (21% of food served), and in private high schools, waste rates ranged from 14.71% to 25.25%. Frequently discarded items included vegetables, desserts, staple foods, side dishes, and rice/noodles. Institutional practices, such as booking systems, menu design, and service logistics, along with behavioural factors, such as dietary habits and awareness, underlie the observed waste. Economic analyses indicate that a 10% reduction in waste could yield annual savings of $80,000 or offset costs estimated at 0.31 billion yuan. One study quantified environmental losses at 15,560 tonnes of waste, 554 km² of land, and 23.12 million m³ of water. Recommendations focus on educational and administrative strategies, improved operational management, and enhanced feedback systems, although none of the studies have tested these interventions under controlled conditions.</em></p>2026-06-30T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/3919DAYA TERIMA COOKIES DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SEBAGAI ASI BOOSTER UNTUK IBU MENYUSUI2026-07-04T07:40:00+00:00Yossy Anggraeniimeraff@gmail.comImelda Telisaimeldatelisa@poltekkespalembang.ac.idSartono Sartonosartono@poltekkespalembang.ac.idYuli Hartatiyuli.hartati@poltekkespalembang.ac.idYunita Nazarenayunitanazarena@poltekkespalembang.ac.id<p><strong><em>Background</em></strong><em>: Breast milk is the primary source of nutrition for infants, but many breastfeeding mothers face challenges related to both the quantity and quality of their breast milk. Consuming functional foods such as moringa leaves, which contain lactagogue compounds, offers a natural alternative to support milk production. Cookies are chosen as a practical food product because they are easy to consume and can be combined with moringa leaves to help meet the nutritional needs of breastfeeding mothers. </em><strong><em>Objective</em></strong><em>: To determine the acceptability of moringa leaf cookies (Moringa oleifera) as a breast milk booster for breastfeeding mothers and to analyze the nutritional content of the best formulation.</em><em> </em><strong><em>Methods</em></strong><em>: This research used an experimental method with a completely randomized design (CRD) consisting of three treatments: F1, F2, and F3. A total of 30 untrained panelists conducted organoleptic evaluations based on color, aroma, taste, texture, and aftertaste. Nutritional analysis of the best formulation was performed through proximate tests and iron content measurement.</em><em> </em><strong><em>Results</em></strong><em>: The F2 formulation (with the addition of 10 grams of moringa leaf powder) showed the highest acceptability across all organoleptic attributes. Laboratory analysis of F2 cookies revealed the following nutritional content per 100 grams: 526.91 kcal energy, 7.58 g protein, 29.59 g fat, 57.57 g carbohydrates, and 4.36 mg iron. </em><strong><em>Conclusion</em></strong><em>: The F2 moringa leaf cookie formulation had the best acceptability and has the potential to serve as a functional snack that supports the nutritional needs of breastfeeding mothers.</em></p>2026-06-30T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/3923HUBUNGAN IMT DAN ASUPAN CAIRAN TERHADAP KEBUGARAN JASMANI PRAJURIT TNI AU2026-07-04T07:39:14+00:00Zainal Abidinpodojoyo@poltekkespalembang.ac.idPodojoyo PodojoyoPodojoyo@poltekkespalembang.ac.idNur Abdul Gonipodojoyo@poltekkespalembang.ac.idGunawan Purwantopodojoyo@poltekkespalembang.ac.idEksan Khoirul Bahrurojipodojoyo@poltekkespalembang.ac.idNanda Firdauspodojoyo@poltekkespalembang.ac.id<p>Kebugaran fisik prajurit adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas militer secara efektif tanpa mengalami kelelahan berlebihan serta mampu pulih kembali dengan cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dan asupan cairan dari minum terhadap kebugaran fisik dengan rancangan penelitian <em>cross-sectional.</em> Populasi penelitian ini adalah prajurit Angkatan Udara, dengan sampel adalah prajurit yang tinggal di mess sebanyak 32 orang laki-laki yang diambil secara simpel random. Pengukuran kebugaran fisik menggunakan skor <em>sit-up, pull-up, push-up, shuttle-run dan run. </em>Hasil penelitian diperoleh kebugaran fisik baik (rata-rata 46,54), asupan cairan cukup (rata-rata 2620,31 ml), dan nilai IMT rata-rata 26,01 adalah kelebihan berat badan. Terdapat hubungan negatif kebugaran fisik terhadap asupan cairan (r=-0,59) dan nilai IMT (r=-0,841). Semakin banyak asupan cairan dari air minum dan semakin tinggi nilai IMT akan berhubungan dengan tingkat kebugaran fisik prajurit.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/3860ASUPAN KARBOHIDRAT, ASUPAN SERAT, DAN KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA2026-07-05T09:46:33+00:00Ratna Ratnaratna@poltekkes-banjarmasin.ac.idLaila Sholehahratna@poltekkes-banjarmasin.ac.id<p style="font-weight: 400;"><em>Type II Diabetes Mellitus is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels due to impaired insulin function. One of the factors affecting blood glucose levels is dietary intake, particularly carbohydrate and fiber intake. This study aimed to analyze the relationship between carbohydrate intake, fiber intake, and blood glucose levels in patients with Type II Diabetes Mellitus at RSUD Ratu Zalecha Martapura. This study used an analytic observational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 33 respondents selected using purposive sampling technique. Data on carbohydrate and fiber intake were collected using a 24-hour food recall, while fasting blood glucose data were obtained from laboratory examination results or medical records. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of α=0.05. The results showed that most respondents had excessive carbohydrate intake (39.4%), low fiber intake (90.9%), and uncontrolled fasting blood glucose levels (72.7%). There was a significant relationship between carbohydrate intake and fasting blood glucose levels (p<0.001), as well as between fiber intake and fasting blood glucose levels (p=0.003). Proper carbohydrate intake regulation and increased fiber consumption are important in controlling blood glucose levels in patients with Type II Diabetes Mellitus.</em></p>2026-06-30T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/3920MODIFIKASI MUTU DAN NILAI GIZI YOGURT BERBASIS SUSU SKIM DENGAN SUPLEMENTASI DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA)2026-07-06T00:22:36+00:00Ayu Meilinaayumeilina@poltekkespalembang.ac.idImelda Telisaimeldatelisa@poltekkespalembang.ac.idNurul Salasa Nilawatinurulsalasa@poltekkespalembang.ac.idYuli Hartatiyulihartati@poltekkespalembang.ac.id<p>Daun kelor (<em>Moringa oleifera</em>) merupakan bahan pangan lokal yang memiliki kandungan protein, mineral, vitamin, serta senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenolik yang berperan sebagai antioksidan alami. Pemanfaatannya dalam produk fermentasi susu, khususnya yogurt, semakin banyak dikembangkan sebagai upaya peningkatan nilai gizi dan karakteristik fungsional pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak daun kelor terhadap mutu fisik, kimia, dan organoleptik yogurt susu skim. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan konsentrasi daun kelor 0%, 10%, 20%, dan 30% yang diulang sebanyak tiga kali. Proses pembuatan yogurt meliputi pasteurisasi susu skim, penambahan starter bakteri asam laktat, serta fermentasi hingga tercapai kondisi optimal. Parameter yang dianalisis meliputi pH, viskositas, kadar protein, lemak, abu, dan serat, serta uji organoleptik yang mencakup warna, aroma, rasa, tekstur, dan tingkat kesukaan panelis. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA pada taraf kepercayaan 95%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan daun kelor memberikan pengaruh nyata terhadap karakteristik yogurt susu skim. Peningkatan konsentrasi daun kelor meningkatkan kadar serat dan beberapa komponen gizi, namun berdampak pada penurunan tingkat penerimaan panelis terutama pada aspek warna dan rasa. Perlakuan 10% merupakan formulasi terbaik karena mampu mempertahankan keseimbangan antara peningkatan nilai gizi dan penerimaan sensoris.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jgk/article/view/3926KANDUNGAN FLAVONOID TEPUNG BIJI LABU KUNING (CUCURBITA MOSCHATA DUCH.) SEBAGAI BAHAN PANGAN FUNGSIONAL2026-07-07T05:06:35+00:00Nurul Asifah Hafsiyahasifahafsiyah@fkm.unmul.ac.idRifdah Wardaniasifahafsiyah@fkm.unmul.ac.idAnindya Monika Putriasifahafsiyah@fkm.unmul.ac.id<p>Biji labu kuning (<em>Cucurbita moschata</em> Duch.) merupakan hasil samping pangan lokal yang memiliki kandungan zat gizi dan berbagai senyawa bioaktif, termasuk flavonoid, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional. Meskipun demikian, informasi ilmiah mengenai kandungan flavonoid pada tepung biji labu kuning masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan flavonoid tepung biji labu kuning melalui identifikasi secara kualitatif dan penetapan kadar flavonoid total secara kuantitatif. Penelitian menggunakan rancangan eksperimen laboratorium dengan sampel berupa tepung biji labu kuning. Identifikasi flavonoid dilakukan menggunakan metode mikrokimia, sedangkan kadar flavonoid total ditentukan menggunakan metode kolorimetri aluminium klorida (AlCl₃) yang diukur dengan spektrofotometer UV-Visible. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tepung biji labu kuning memberikan respons positif terhadap uji flavonoid. Analisis kuantitatif menunjukkan kadar flavonoid total rata-rata sebesar 1,968%. Temuan ini menunjukkan bahwa tepung biji labu kuning memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan pangan fungsional karena kandungan flavonoidnya yang berpotensi memberikan aktivitas antioksidan.</p> <p> </p>2026-06-30T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##