https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jmls/issue/feedJournal of Medical Laboratory and Science2026-01-13T13:41:24+00:00JMLSjmls@poltekkespalembang.ac.idOpen Journal Systems<p>Journal of Medical Laboratory and Science dengan <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220330071609256">e-ISSN 2829-1158</a>; yang memuat hasil penelitian, studi pustaka, artikel maupun tulisan lain terkait bidang kesehatan khususnya bidang teknologi laboratorium medik yang meliputi Parasitologi, Immunoserologi, Virologi, Bakteriologi, Kimia Klinik, Toksikologi, Hematologi, Analisa Makanan dan Minuman, teknologi pendidikan bidang laboratorium, manajemen laboratorium serta disiplin ilmu yang terkait lainnya. Jurnal ini merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Poltekkes Kemenkes Palembang yang dikelola Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Palembang. Jurnal ini diterbitkan setiap 6 bulan sekali (April dan Oktober).</p> <p><input id="ext" type="hidden" value="1"><input id="ext" type="hidden" value="1"><input id="ext" type="hidden" value="1"></p> <p><input id="ext" type="hidden" value="1"><input id="ext" type="hidden" value="1"><input id="ext" type="hidden" value="1"></p>https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jmls/article/view/2953Gambaran Hasil Pemeriksaan Benzodiazepine Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di RS Karsa Husada Batu2026-01-13T13:41:24+00:00Mela Tri Mayang Saritrimayangsarimela@gmail.comPrevita Zeizar Rahmawatiprevita.zr@stikesmaharani.ac.id<p><strong>Latar Belakang: </strong>Pasien gagal ginjal kronik (GGK) dengan hemodialisa sering mengalami gangguan psikososial, di antaranya kecemasan serta kualitas tidur buruk akibat perubahan fisik dan keterbatasan aktivitas. Penggunaan obat benzodiazepine digunakan untuk mengatasi gangguan tersebut, karena memiliki efek sedatif pada sistem saraf pusat. Namun, dalam penggunaan obat benzodiazepine tidak lepas dari efek samping seperti pusing, kelelahan, serta resiko ketergantungan, terutama penggunaan jangka panjang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan benzodiazepine pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RS Karsa Husada Batu. <strong>Metode:</strong> Penelitiaan ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sampel penelitian berjumlah 20 urine pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RS Karsa Husada Batu. Pemeriksaan penelitian ini menggunakan alat strip-test benzodiazepine yang merupakan salah satu metode uji skrining yang digunakan secara umum, cepat, dan relatif murah. Hasil negatif ditandai dengan dua garis warna merah pada kolom test dan kontrol, sedangkan hasil positif ditandai satu garis warna merah pada kolom kontrol. <strong>Hasil:</strong> Pada penelitian ini pada parameter kecemasan menunjukkan hasil bahwa seluruh responden yaitu 20 responden (100%) mengalami gangguan kecemasan. Berdasarkan parameter kualitas tidur, diperoleh 7 responden (35%) mempunyai kualitas tidur baik, sementara yang mempunyai kualitas tidur buruk ada 13 responden (65%). Hasil dari pemeriksaan benzodiazepine didapatkan 18 responden (90%) negatif dan 2 responden (10%) positif kandungan benzodiazepine.<strong> Kesimpulan:</strong> Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 20 sampel urine pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di temukan bahwa dari 20 sampel urine menunjukkan hasil negatif 18 responden (90%), dan hasil positif didapatkan 2 responden (10%) terhadap kandungan benzodiazepine.</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci : </strong><em>Benzodiazepine, Gagal Ginjal Kronik, , Kecemasan, Kualitas Tidur</em></p>2025-10-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jmls/article/view/2976Deteksi Gen Panton-Valentine Leukocidin (PVL) Pada Isolat Methicillin-Sensitive Staphylococcus aureus (MSSA) Dari Ulkus Kaki Diabetik2026-01-13T13:41:24+00:00Muhammad Fikrah Daudfikrahdaud@gmail.com<p><strong>Latar Belakang: </strong>Ulkus kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi kronis diabetes melitus yang berisiko tinggi mengalami infeksi dan amputasi. <em>Staphylococcus aureus</em> merupakan patogen utama yang banyak ditemukan pada luka ulkus diabetikum, termasuk jenis <em>Methicillin Sensitive Staphylococcus aureus</em> (MSSA). Salah satu faktor virulensi penting dari MSSA adalah gen <em>Panton-Valentine Leukocidin</em> (PVL), yang berperan dalam merusak sel leukosit dan memicu nekrosis jaringan. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan gen PVL pada isolat MSSA dari pasien dengan ulkus kaki diabetik.<strong> Metode:</strong> Jenis penelitian ini adalah <strong>deskriptif kuantitatif</strong> dengan pendekatan<strong> eksperimental laboratorium</strong><strong>. </strong>Sampel berupa swab ulkus kaki diabetik yang diisolasi dan diidentifikasi sebagai MSSA melalui uji fenotipik dan uji sensitivitas antibiotik menggunakan cakram cefoxitin. Deteksi gen PVL dilakukan secara molekuler dengan metode <em>Polymerase Chain Reaction</em> (PCR) konvensional menggunakan primer spesifik LukS-PV dan LukF-PV. <strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 30 sampel yang diteliti terdapat 18 sampel (60%) yang teridentifikasi <em>Staphylococcus aureus</em>. Dari 18 sampel tersebut terdapat 8 sampel (44%) yang termasuk MSSA, dan dari 8 sampel isolat MSSA yang dideteksi gen PVL diperoleh hasil negative (0%) pada semua sampel.<strong> Kesimpulan:</strong> Tidak terdeteksi gen PVL pada total 8 isolat MSSA yang diambil dari swab pasien dengan ulkus kaki diabetik, menunjukkan semua isolat MSSA tersebut negatif tidak membawa gen PVL.</p> <p><strong>Kata kunci : </strong>Ulkus kaki diabetik, <em>Staphylococcus aureus, </em>MSSA, Gen PVL</p>2025-10-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jmls/article/view/3071HUBUNGAN KECACINGAN Enterobius Vermicularis DENGAN PERSONAL HYGIENE ANAK SD USIA 7-10 TAHUN2026-01-13T13:41:24+00:00Akbar Dwi Kurniawanakbardk29@gmail.comYohani Mahtuti Erniyhani@gmail.com<p>Infeksi <em>Enterobius vermicularis</em> tetap menjadi masalah kesehatan signifikan pada anak sekolah dasar, khususnya terkait praktik kebersihan diri. Penelitian kuantitatif deskriptif ini bertujuan hubungan antara personal hygiene dan kejadian infeksi pada 23 anak usia 7-10 tahun di SDN Bugul Kidul 1 Pasuruan melalui metode total sampling. Pengumpulan data melibatkan pemeriksaan swab perianal untuk deteksi telur cacing dan kuesioner kebiasaan kebersihan. Hasil menunjukkan 21,7% (5 anak) terinfeksi, sedangkan 78,3% (18 anak) bebas infeksi. Analisis korelasi Pearson mengungkap hubungan signifikan antara cuci tangan sebelum makan (p=0,001) serta cuci tangan pakai sabun-air bersih (p=0,035) dengan infeksi. Namun, kebiasaan tidak beralas kaki (p=0,708) dan potong kuku mingguan (p=0,350) tidak berhubungan signifikan. Disimpulkan bahwa praktik higiene personal yang baik menurunkan risiko infeksi, sehingga edukasi berkelanjutan bagi anak dan orang tua diperlukan untuk pencegahan.</p>2025-10-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jmls/article/view/3279EFEKTIVITAS SPEKTROFOTOMETER DIBANDINGKAN FOTOMETER PADA PEMERIKSAAN KADAR BILIRUBIN DENGAN SAMPEL SERUM2026-01-13T13:41:24+00:00Rolista Susilo Rahayurolistasusilorahayu14@gmail.comArifiani Agustin Amaliaamalia@ymail.comIsmarwati IsmarwatiIsmarwati@ymail.com<h1> </h1> <p><strong>Latar Belakang: </strong>Bilirubin merupakan produk yang dihasilkan ketika heme yang dilepaskan dari sel darah merah dipecah oleh <em>heme oksigenase </em>di limpa. Saat ini alat yang masih sering digunakan untuk melakukan pemeriksaan bilirubin di laboratorium klinis adalah spektrofotometer dan fotometer. Alat spektrofotometer dan fotometer dapat melakukan pemeriksaan bilirubin dengan cara enzimatik dan metode yang digunakan yaitu <em>Jendrassik-Groff</em>. <strong>Tujuan : </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas spektrofotometer dibandingkan dengan fotometer pada pemeriksaan bilirubin dengan sampel serum. <strong>Metode:</strong> Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian experimental menggunakan pendekatan <em>Cross-Sectional</em> dengan metode pemeriksaan bilirubin total secara enzimatik menggunakan alat fotometer dan spektrofotometer, jumlah sampel sebanyak 37 menggunakan sampel serum probandus mahasiswa keperawatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta angkatan 2022. <strong>Hasil:</strong> Hasil uji <em>Paired Sample Test </em>didapatkan P-Value 0,922.<strong> Kesimpulan:</strong> Hasil uji dinyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifiikan dengan P-Value >0,05. Hal ini berarti kedua alat tersebut memberikan hasil yang sebanding.</p>2025-10-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jmls/article/view/3591PERTUMBUHAN JAMUR Aspergillus sp. PADA MEDIA ALTERNATIF UBI JALAR (Ipomoea Batatas)2026-01-13T13:41:24+00:00Erwin Edyansyaherwinedyansyah@poltekkespalembang.ac.idAsrori AsroriAsrori@yahoo.comNurhayati NurhayatiNurhayati@ymail.comHandayani HandayaniHandayani@gmail.comFandianta Fandiantafandianta@poltekkespalembang.ac.idTarisa MerlinskiMerlinski@ymail.com<p><strong>Latar Belakang: </strong>Perkembangan mikroba di dalam laboratorium membutuhkan medium yang mengandung nutrisi dan menyediakan lingkungan pertumbuhan yang cocok untuk mikroorganisme tersebut. Medium merupakan campuran suatu bahan zat makanan (nutrient) yang berfungsi untuk tepat tumbuhya suatu mikroba. Media dapat mempengaruhi morfologi dan warna dari koloni, terbentuknya struktur tertentu, dan dapat tumbuh atau tidak nya jamur. Semua jamur memerlukan elemen yang spesifik untuk melangsungkan pertumbuhannya.<strong>Tujuan Penelitian: </strong>Untuk mengetahui uji pertumbuhan jamur <em>Aspergillus flavus </em>pada media alternatif ubi jalar kuning. <strong>Metode penelitian: </strong>yang digunakan adalah metode eksperimental dengan desain penelitian <em>statistic group comparison. </em><strong>Hasil penelitian: </strong>didapatkan hasil rerata pertumbuhan jamur <em>Aspergillus flavus </em>pada media ubi jalar kuning konsentrasi 10%, 20%, dan 30% yaitu sebesar 22,5 mm, 26,9 mm, 32,5 mm. Hasil uji statistic menunjukkan ada perbedaan antara rata-rata diameter koloni pertumbuhan <em>Aspergillus flavus</em> pada media media alternatif ubi jalar konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. <strong>Kesimpulan : </strong>dapat disimpulkan bahwa media alternatif ubi jalar konsentrasi 10%, 20%, dan 30% dapat digunakan untuk menggantikan media yang biasa digunakan untuk penanaman jamur <em>Aspergillus flavus</em>. <strong>Saran: </strong>Disarankan untuk menggunakan konsentrasi yang lebih tinggi ataupun menggunakan jamur dengan spesies yang berbeda.</p>2025-10-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jmls/article/view/3692DIFFERENCE IN PLATELET COUNT BETWEEN PLATELET APHERESIS AND PLATELET-RICH PLASMA (TC PRP) AT Dr. MOHAMMAD HOESIN CENTRAL GENERAL HOSPITAL PALEMBANG2026-01-13T13:41:24+00:00sri hartini harianjasrihartiniharianja@poltekkespalembang.ac.idSinta DamiyantiDamiyanti@ymail.comRefai RefaiRefai@ymmail.comYusneli YusneliYusneli@gmail.comHamril DanDan@ymail.com<p><strong><em>Background</em></strong><em><span style="font-weight: 400;">: Platelet transfusion is an essential medical intervention for patients with thrombocytopenia or abnormalities in hemostasis. Therefore, understanding the quality of platelet components used for transfusion is crucial, including evaluating the platelet count in each unit. According to data from the Blood Transfusion Unit (UTDRS) at Dr. Mohammad Hoesin General Hospital Palembang in 2024, out of a total platelet requirement of 2,904 units, 13,264 units of TC-PRP and 1,540 units of Platelet Apheresis were transfused. </span></em><strong><em>Objective</em></strong><em><span style="font-weight: 400;">: To determine the differences in platelet counts between Platelet Apheresis and Platelet Rich Plasma (TC-PRP) units at Dr. Mohammad Hoesin General Hospital Palembang. </span></em><strong><em>Methods</em></strong><em><span style="font-weight: 400;">: This study was a laboratory-based observational analytic study with a comparative approach. The samples consisted of 20 TC-PRP units and 20 Platelet Apheresis units, selected through purposive sampling. Data were analyzed using the Independent Sample T-Test. </span></em><strong><em>Results</em></strong><em><span style="font-weight: 400;">: The statistical analysis showed a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference in platelet counts between Platelet Apheresis and TC-PRP units. </span></em><strong><em>Conclusion</em></strong><em><span style="font-weight: 400;">: The study concluded that the quality of platelet components, based on platelet count, is higher in Platelet Apheresis compared to TC-PRP. </span></em><strong><em>Recommendation</em></strong><em><span style="font-weight: 400;">: Clinicians may prefer platelet apheresis in therapy to achieve more optimal benefits, especially when adequate doses of TC-PRP are difficult to obtain.</span></em></p>2025-10-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jmls/article/view/3718GAMBARAN KADAR C-REACTIVE PROTEIN (CRP) PADA PENDERITA ASAM URAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SITI FATIMAH AZ-ZAHRA PROVINSI SUMATERA SELATAN2026-01-13T13:41:24+00:00Refai Refairsm.sogara@gmail.comSiti Nurhidayahhidayahnur@gmail.comhamril danihamridani@gmail.comAnton SyailendraAnton@gmail.comMuhammad Ihsan TarmiziIhsan@gmail.com<p> <strong>Latar Belakang: </strong>Asam urat merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia) dan dapat memicu inflamasi. <em>C-Reactive Protein </em>(CRP) adalah protein fase akut yang meningkat saat terjadi peradangan dan dapat menjadi indikator inflamasi pada penderita asam urat. Pemeriksaan CRP dapat memberikan gambaran adanya inflamasi, terutama pada pasien dengan komorbiditas seperti hipertensi dan diabetes mellitus (DM). <strong>Tujuan: </strong>Mengetahui gambaran kadar CRP pada penderita asam urat di RSUD Siti Fatimah Az-Zahra Provinsi Sumatera Selatan. <strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif observasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel sebanyak 30 penderita asam urat dipilih menggunakan teknik <em>accidental sampling</em>. Pemeriksaan laboratorium CRP dengan metode aglutinasi. <strong>Hasil: </strong>Sebanyak 30% responden memiliki kadar CRP tidak normal, sementara 70% normal. Pada responden dengan riwayat penyakit, kadar CRP tinggi ditemukan pada 36,4% kasus. Sementara pada responden tanpa riwayat penyakit tersebut, kadar CRP tinggi hanya sebesar 10,5%. <strong>Kesimpulan: </strong>Mayoritas penderita asam urat memiliki kadar CRP normal. Namun, kadar CRP lebih tinggi pada pasien dengan riwayat penyakit DM, yang menunjukkan peran komorbiditas dalam meningkatkan risiko inflamasi. <strong>Saran: </strong>Kepada para klinisi seyogyanya melakukan pemeriksaan asam urat untuk melihat tingkat inflamasi pada penderita asam urat, terutama bagi yang memiliki riwayat penyakit hipertensi atau diabetes melitus.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Hiperurisemia, CRP, hipertensi, DM, inflamasi</p>2025-10-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##