HUBUNGAN KADAR HbA1c DENGAN ESTIMASI LAJU FILTRASI GLOMERULUS DAN MIKROALBUMIN URINE

  • Meiliza Indriani +62-813-73-700-200
  • Bastian Bastian Prodi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
  • Juwy Trianes Prodi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
  • Nur Asini Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Aisyah Pringsewu, Lampung, Indoensia.
Keywords: albuminuria, hemoglobin terglikasi, hiperfiltrasi glomerulus, laju filtrasi glomerulus, nefropati diabetik

Abstract

awal, namun hubungan tersebut belum banyak dibuktikan pada populasi laboratorium di Indonesia. Tujuan: Menganalisis hubungan kadar HbA1c dengan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) dan kadar mikroalbumin urine. Metode: Penelitian analitik dengan desain potong lintang pada 40 subjek yang menjalani pemeriksaan HbA1c, kreatinin serum, dan mikroalbumin urine. Nilai eGFR dihitung menggunakan persamaan CKD-EPI 2021. Analisis statistik meliputi korelasi Spearman, korelasi parsial, uji Mann-Whitney, Kruskal-Wallis, uji eksak Fisher, regresi linear berganda, regresi logistik, dan analisis kurva ROC. Hasil: Rerata usia subjek 54,77 ± 12,96 tahun dengan 55,0% perempuan. Median HbA1c sebesar 6,20% (IQR 5,51–8,47), rerata eGFR 89,25 ± 19,89 mL/menit/1,73 m², dan median mikroalbumin urine 30,24 mg/dL (IQR 16,12–73,70). Albuminuria ditemukan pada 70,0% subjek, lebih tinggi dibandingkan peningkatan kreatinin serum (37,5%). HbA1c tidak menunjukkan korelasi bermakna dengan eGFR (ρ = +0,044; p = 0,789) maupun mikroalbumin urine (ρ = +0,048; p = 0,769), dengan kemampuan diskriminasi yang rendah (AUC 0,525 dan 0,522). Setelah penyesuaian usia dan jenis kelamin, HbA1c berhubungan positif dengan eGFR (b = +3,64; p = 0,005) dan negatif dengan kreatinin serum (b = −0,058; p = 0,002). Penurunan eGFR dipengaruhi oleh usia ≥60 tahun dan jenis kelamin laki-laki. Kesimpulan: HbA1c tidak dapat digunakan sebagai indikator tunggal penurunan fungsi ginjal tahap awal. Pemeriksaan albuminuria bersama eGFR tetap diperlukan untuk mendeteksi kerusakan ginjal dini.

 

Published
2026-04-30